Posisi Investasi Internasional RI Turun karena Asing Hengkang

Posisi Investasi Internasional (PII) Indonesia mencatat kewajiban neto sebesar US$253,8 miliar atau sekitar 22,5 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) pada kuartal I 2020. Posisi ini menurun US$85,6 miliar atau 25,22 persen dari US$339,4 miliar yang setara 30,3 persen dari PDB pada kuartal IV 2019. 
Best Profit
Direktur Eksekutif sekaligus Kepala Departemen Komunikasi Bank Indonesia (BI) Onny Widjanarko mengatakan penurunan PII terjadi karena nilai Kewajiban Finansial Luar Negeri (KFLN) turun lebih dalam daripada Aset Finansial Luar Negeri (AFLN). KFLN tercatat sebesar US$616,4 miliar, sementara AFLN US$362,6 miliar pada tiga bulan pertama tahun ini. Bestprofit

KFLN tercatat turun US$96,5 miliar atau13,53 persen dari US$712,9 miliar pada kuartal IV 2019. Penurunan KFLN karena berkurangnya investasi portofolio di Indonesia di tengah pandemi virus corona atau covid-19.  PT Bestprofit

Tercatat aliran modal asing justru keluar atau dikenal capital outflow dari Indonesia, khususnya di instrumen Surat Berharga Negara (SBN) dan saham. Penurunan posisi KFLN juga dipengaruhi oleh faktor revaluasi atas instrumen investasi berdenominasi rupiah. "Penurunan posisi KFLN terutama didorong oleh penurunan investasi portofolio, sejalan dengan arus keluar modal asing sebagai dampak peningkatan ketidakpastian global akibat pandemi covid-19," ucap Onny dalam keterangan resmi, Jumat (26/6).  PT Bestprofit Futures
"Ini sejalan dengan penurunan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan pelemahan rupiah terhadap dolar AS," jelasnya. 
Ke depan, BI melihat perkembangan PII Indonesia akan tetap baik. Sebab, investasi di Tanah Air masih didominasi instrumen jangka panjang, meski tengah terjadi tekanan ekonomi akibat pandemi corona. Sementara AFLN turun US$10,8 miliar atau 2,89 persen dari US$373,4 miliar pada kuartal IV 2019. AFLN turun karena rendahnya transaksi aset dalam bentuk cadangan devisa. Selain itu, juga karena revaluasi aset akibat penguatan dolar AS terhadap beberapa mata uang utama dunia dan penurunan rerata indeks saham di sebagian besar negara penempatan investasi residen.
"Bank Indonesia meyakini kinerja PII Indonesia akan makin baik sejalan dengan stabilitas perekonomian yang terjaga dan pemulihan ekonomi Indonesia yang berlanjut pasca coivd-19 didukung oleh konsistensi dan sinergi bauran kebijakan Bank Indonesia, kebijakan fiskal, dan reformasi struktural," pungkasnya. 

Comments

Popular posts from this blog

127 Nakes di Maros Sulsel Positif COVID-19 dalam 2 Minggu

Jokowi Minta Asuransi dan Hak Korban SJ 182 Segera Diberikan

Massa Lempari Batu ke Stasiun Tanah Abang, Penumpang Menumpuk